Langsung ke konten utama

The A-Z of food safety

Terlalu banyak orang masih menderita akibat yang buruk dari miskin tingkat keamanan pangan dan kebersihan. Efek ini dapat dikaitkan dengan produk yang dibeli di supermarket, makan di restoran atau makanan siap-siap dibeli dari take-away tempat. Meskipun pelajaran dari keracunan makanan utama insiden lima puluh tahun terakhir, jauh terlalu banyak wabah keracunan makanan masih menunjukkan kegagalan di pihak pelaku usaha makanan dan karyawannya mengikuti prinsip-prinsip dasar kebersihan pribadi dan prosedur untuk memastikan persiapan makanan yang bebas dari segala bentuk kontaminasi.


Tidak ada keraguan bahwa keselamatan makanan adalah masalah yang menyangkut semua orang - Produsen makanan, katering perusahaan, organisasi dalam pasokan dan distribusi rantai, pengecer dan orang-orang menyiapkan makanan di rumah. Selanjutnya, baru-baru ini undang-undang sekarang memerlukan makanan operator bisnis untuk mengoperasikan manajemen keselamatan makanan sistem, seperti Hazard Analysis: Titik Kontrol Kritis (HACCP) dengan tujuan untuk mengurangi angka kematian dan kesehatan terkait dengan makanan tidak sehat.


Buku ini telah diproduksi sebagai teks yang siap-referensi bagi mereka yang terlibat dalam penegakan undang-undang keamanan pangan, produsen produk makanan, katering dan lain-lain yang terlibat dalam operasi dari berbagai perusahaan-perusahaan makanan
ditemui hari ini. Hal ini lebih ditujukan pada mereka yang belajar untuk rentang kualifikasi keamanan pangan yang disponsori oleh badan-badan profesional, seperti Chartered Institut Kesehatan Lingkungan, Institut Kesehatan Masyarakat Royal, Royal Kesehatan Lingkungan Institut Skotlandia dan Royal Society untuk Promosi Kesehatan, bersama-sama dengan Universitas dan mahasiswa bergerak di bidang makanan teknologi dan program serupa.

Saya berharap bahwa semua yang menggunakan buku ini akan merasa terbantu.
download bukunya di http://www.ziddu.com/download/10486184/6404854-The-aZ-of-Food-Safety.pdf.html

Jeremy Stranks

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanamkan Mindset “Asah Gergaji” Sejak Dini: Bekal Hidup yang Bertumbuh

oleh Muhammad Asfar “Gagal itu wajar. Tapi tidak bertumbuh adalah masalah besar.” Untuk Anak-Anak: Belajar Itu Asah Diri, Bukan Beban Banyak anak merasa sekolah itu melelahkan. Kenapa? Karena mereka hanya diajak "mencapai nilai", bukan menumbuhkan diri . Dengan mindset sharpen the saw , anak-anak belajar: -        Bahwa membaca buku = menguatkan pikiran -        Bermain sehat & tidur cukup = merawat fisik -        Minta maaf dan berbagi = mengasah emosi -        Shalat & dzikir = mengisi batin dengan cahaya “Nak, kamu nggak harus jadi yang terbaik. Tapi kamu harus jadi versi terbaik dari dirimu hari ini.” Untuk Mahasiswa: Jangan Kejar Gelar, Kejarlah Kapasitas Mahasiswa hari ini mudah terjebak pada sibuk tugas tanpa makna, cemas dengan IPK dan membandingkan pencapaian di media sosial. Mindset sharpen the saw mengajarkan bukan hanya kerja ker...

Habit 7: Sharpen the Saw dalam Konteks Spiritual dan Sosial

Oleh Muhammad Asfar "Jika aku punya waktu enam jam untuk menebang pohon, aku akan menggunakan empat jam pertama untuk mengasah gergaji."  Abraham Lincoln Apa itu “Mengasah Gergaji”? “Gergaji” adalah alat kehidupan: tubuh kita, akal kita, hati kita, dan ruh kita. Habit 7 adalah ajakan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, merawat alat utama kita, dan menyadari bahwa kelelahan lahir-batin butuh pemulihan terencana. 1. Spiritual Renewal – Asah Ruh dan Makna Hidup Kita bukan sekadar mesin produktif. Tanpa ruh yang segar, aktivitas menjadi hampa. Mengasah secara spiritual berarti  kembali ke tujuan hidup  “Untuk apa saya hidup hari ini?”.  Menjaga koneksi dengan Allah : shalat khusyuk, dzikir, tafakur.  Merefleksi peran dan amal : “Apakah aku sedang menuju ridha Allah atau sekadar mengejar target dunia?” “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (QS. Al-Kahfi: 28) Insight: Lalai mengigat Allah bisa...

Jadwalkan Prioritasmu, Bukan Prioritaskan Jadwalmu

"The key is not to prioritize what’s on your schedule, but to schedule your priorities." adalah salah satu permata pemikiran Covey yang sangat dalam , dan bisa menjadi pegangan hidup dalam mengelola waktu dan makna. Makna Mendalam dari Kalimat Ini “Kuncinya bukanlah memprioritaskan apa yang ada di jadwalmu, tapi menjadwalkan apa yang menjadi prioritas hidupmu.” Apa maksudnya? Sebagian besar orang: Menyusun jadwal berdasarkan tuntutan eksternal : deadline, rapat, permintaan orang lain. Lalu dari jadwal itu, mereka mencoba mencari-cari waktu untuk hal yang mereka anggap penting. Padahal Covey membaliknya: ➡️ Mulailah dari hal yang penting dulu. ➡️ Jadwalkan itu dengan sadar. ➡️ Baru isi waktu yang tersisa dengan urusan lain.  Praktik Sederhana yang Berdampak Besar: Tentukan 3 Prioritas Nilai Hidup Anda Contoh: Keluarga, Kontribusi Ilmu, Ibadah. Blokir waktu khusus untuk itu lebih dulu dalam jadwal mingguan. Sebelum isi Google Calendar atau to-do list, tu...