Langsung ke konten utama

JIKA TERBANGUN MENJELANG SUBUH

Jika Anda memiliki rutinitas tidur pukul 21.00 dan kadang terbangun di dini hari (sekitar pukul 04.00) karena bermimpi buruk atau kebelet mo ke kamar mandi, ada baiknya jika tidak tidur lagi. Pada saat itu, tubuh sebenarnya sudah 90% recovery (metabolisme sudah komplit). Ketika memaksa tubuh tidur lagi, secara otomatis, seluruh tubuh akan "dipaksa" pula untuk kembali rileks dan tubuh mengulangi proses istirahat dari nol kembali.

Akibatnya tubuh yang telah bugar 90% tadi (telah mengalami tidur selama 6-7 jam. Normalnya manusia tidur selama 8 jam), menjadi kacau. Layaknya batere rechargeable yang telah nyaris full, kemudian dimatikan lalu dicharge ulang. Lama-lama akan rusak. Begitu juga dengan tubuh. Tidak jarang anda akan bangun dengan tubuh sakit (serasa remuk), dibarengi sakit kepala, tubuh lemas dan rasanya males banget.

Ada baiknya setelah Anda terbangun, jangan biarkan diri Anda terlelap lagi, walau Anda masih merasa ingin tidur. setidaknya ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan diantaranya :

pertama : Segeralah bangun,amabil air wudhu lalu sholat Qiyamu Lail lalu sibukkan otak Anda dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Paling efektif adalah membaca bahkan menghafal. Saat pagi, ketika otak Anda masih segar, membaca dapat membantu Anda melatih konsentrasi dan fokus. Membaca di pagi hari dapat menekan risiko pikun atau Alzheimer. Maka itu gunakan waktu ini untuk membaca karena kosentrasi kita masih kuat.

Kedua : Jangan sekali-kali menonton, karena hanya akan membuat otak Anda berada dalam kondisi "idle" / stand by. Karena tidak distimulasi kegiatan yang "menantang", lama-lama otak akan membiarkan dirinya relaks, dan pada akhirnya Anda pun tertidur.

ketiga : Selain itu, Anda bisa melakukan kegiatan lain seperti melukis, menulis, atau hal lain yang bisa menstimulasi otak Anda.

Asal tahu saja: Beethoven, Mozart, Albert Einstein, J.K. Rowling, Thomas Alva Edison , bahkan Robert T.Kiyosaki banyak mendapatkan ide-ide cemerlang di pagi hari setelah bangun tidur.

Bukankah Allah menurunkan beberapa rezeky Nya hanya dipagi hari...so..jng tidur lagi ya...klo dah ke bangun klo katanya orang2 tua ntar rezeky dipatok ayam loch..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanamkan Mindset “Asah Gergaji” Sejak Dini: Bekal Hidup yang Bertumbuh

oleh Muhammad Asfar “Gagal itu wajar. Tapi tidak bertumbuh adalah masalah besar.” Untuk Anak-Anak: Belajar Itu Asah Diri, Bukan Beban Banyak anak merasa sekolah itu melelahkan. Kenapa? Karena mereka hanya diajak "mencapai nilai", bukan menumbuhkan diri . Dengan mindset sharpen the saw , anak-anak belajar: -        Bahwa membaca buku = menguatkan pikiran -        Bermain sehat & tidur cukup = merawat fisik -        Minta maaf dan berbagi = mengasah emosi -        Shalat & dzikir = mengisi batin dengan cahaya “Nak, kamu nggak harus jadi yang terbaik. Tapi kamu harus jadi versi terbaik dari dirimu hari ini.” Untuk Mahasiswa: Jangan Kejar Gelar, Kejarlah Kapasitas Mahasiswa hari ini mudah terjebak pada sibuk tugas tanpa makna, cemas dengan IPK dan membandingkan pencapaian di media sosial. Mindset sharpen the saw mengajarkan bukan hanya kerja ker...

Habit 7: Sharpen the Saw dalam Konteks Spiritual dan Sosial

Oleh Muhammad Asfar "Jika aku punya waktu enam jam untuk menebang pohon, aku akan menggunakan empat jam pertama untuk mengasah gergaji."  Abraham Lincoln Apa itu “Mengasah Gergaji”? “Gergaji” adalah alat kehidupan: tubuh kita, akal kita, hati kita, dan ruh kita. Habit 7 adalah ajakan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, merawat alat utama kita, dan menyadari bahwa kelelahan lahir-batin butuh pemulihan terencana. 1. Spiritual Renewal – Asah Ruh dan Makna Hidup Kita bukan sekadar mesin produktif. Tanpa ruh yang segar, aktivitas menjadi hampa. Mengasah secara spiritual berarti  kembali ke tujuan hidup  “Untuk apa saya hidup hari ini?”.  Menjaga koneksi dengan Allah : shalat khusyuk, dzikir, tafakur.  Merefleksi peran dan amal : “Apakah aku sedang menuju ridha Allah atau sekadar mengejar target dunia?” “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (QS. Al-Kahfi: 28) Insight: Lalai mengigat Allah bisa...

Jadwalkan Prioritasmu, Bukan Prioritaskan Jadwalmu

"The key is not to prioritize what’s on your schedule, but to schedule your priorities." adalah salah satu permata pemikiran Covey yang sangat dalam , dan bisa menjadi pegangan hidup dalam mengelola waktu dan makna. Makna Mendalam dari Kalimat Ini “Kuncinya bukanlah memprioritaskan apa yang ada di jadwalmu, tapi menjadwalkan apa yang menjadi prioritas hidupmu.” Apa maksudnya? Sebagian besar orang: Menyusun jadwal berdasarkan tuntutan eksternal : deadline, rapat, permintaan orang lain. Lalu dari jadwal itu, mereka mencoba mencari-cari waktu untuk hal yang mereka anggap penting. Padahal Covey membaliknya: ➡️ Mulailah dari hal yang penting dulu. ➡️ Jadwalkan itu dengan sadar. ➡️ Baru isi waktu yang tersisa dengan urusan lain.  Praktik Sederhana yang Berdampak Besar: Tentukan 3 Prioritas Nilai Hidup Anda Contoh: Keluarga, Kontribusi Ilmu, Ibadah. Blokir waktu khusus untuk itu lebih dulu dalam jadwal mingguan. Sebelum isi Google Calendar atau to-do list, tu...