Langsung ke konten utama

Soft Launching “KOPI PAGI”

Selamat atas terbentuknya Komunitas Pemuda Peduli Pangan dan gizi (KOPI PAGI). Komunitas ini terbentuk tanggal 14 januari 2015. Ibarat benih maka ia mulai memunculkan kecambanya, ia masih menggunakan cadangan makanan untuk terus tumbuh hingga kecambahnya mencapai sumber nutrisi untuk terus tumbuh. Pada akhirnya akarpun terbentuk dan sang benih mulai menegakkan batang menjulang ketas. Ia memperlihatkan eksistensinya dengan menghasilkan daun dan akan terus tumbuh. Saya kira dititik inilah “KOPI PAGI” saat ini.
Saya yakin “benih” komunitas ini dihasilkan dari indukan yang unggul, sehingga ia akan terus tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan memiliki manfaat besar untuk ummat manusia di kemudian hari.  Kenapa saya katakana demikian, karena saya melihat semangat dan antusias teman-teman dalam pertemuan-pertemuan yang telah dilakukan. Dan keyakinan itu bertambah kuat karena mereka itu adalah orang-orang terbaik dibidangnya.
Soft launcing “KOPI PAGI” dihari GIZI Nasional ini, sudah menunjukkan eksistensinya.  KOPI PAGI adalah organisasi yang menghimpun pemuda pemerhati bidang pangan dan gizi di Sulawesi Selatan, bersifat independent, non-profit, serta dijiwai oleh nilai kemanusiaan dan memiliki visi “mewujudkan ketahanan pangan dan bebas malnutrisi, capai masyarakat Sulsel Sehat”.
Sekali Lagi Selamat Buat Komunitas Pemuda Peduli Pangan dan gizi (KOPI PAGI) “Syukuri Panganmu, Seimbangkan Gzimu” dan SELAMAT HARI GIZI NASIONAL “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanamkan Mindset “Asah Gergaji” Sejak Dini: Bekal Hidup yang Bertumbuh

oleh Muhammad Asfar “Gagal itu wajar. Tapi tidak bertumbuh adalah masalah besar.” Untuk Anak-Anak: Belajar Itu Asah Diri, Bukan Beban Banyak anak merasa sekolah itu melelahkan. Kenapa? Karena mereka hanya diajak "mencapai nilai", bukan menumbuhkan diri . Dengan mindset sharpen the saw , anak-anak belajar: -        Bahwa membaca buku = menguatkan pikiran -        Bermain sehat & tidur cukup = merawat fisik -        Minta maaf dan berbagi = mengasah emosi -        Shalat & dzikir = mengisi batin dengan cahaya “Nak, kamu nggak harus jadi yang terbaik. Tapi kamu harus jadi versi terbaik dari dirimu hari ini.” Untuk Mahasiswa: Jangan Kejar Gelar, Kejarlah Kapasitas Mahasiswa hari ini mudah terjebak pada sibuk tugas tanpa makna, cemas dengan IPK dan membandingkan pencapaian di media sosial. Mindset sharpen the saw mengajarkan bukan hanya kerja ker...

Habit 7: Sharpen the Saw dalam Konteks Spiritual dan Sosial

Oleh Muhammad Asfar "Jika aku punya waktu enam jam untuk menebang pohon, aku akan menggunakan empat jam pertama untuk mengasah gergaji."  Abraham Lincoln Apa itu “Mengasah Gergaji”? “Gergaji” adalah alat kehidupan: tubuh kita, akal kita, hati kita, dan ruh kita. Habit 7 adalah ajakan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, merawat alat utama kita, dan menyadari bahwa kelelahan lahir-batin butuh pemulihan terencana. 1. Spiritual Renewal – Asah Ruh dan Makna Hidup Kita bukan sekadar mesin produktif. Tanpa ruh yang segar, aktivitas menjadi hampa. Mengasah secara spiritual berarti  kembali ke tujuan hidup  “Untuk apa saya hidup hari ini?”.  Menjaga koneksi dengan Allah : shalat khusyuk, dzikir, tafakur.  Merefleksi peran dan amal : “Apakah aku sedang menuju ridha Allah atau sekadar mengejar target dunia?” “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (QS. Al-Kahfi: 28) Insight: Lalai mengigat Allah bisa...

Jadwalkan Prioritasmu, Bukan Prioritaskan Jadwalmu

"The key is not to prioritize what’s on your schedule, but to schedule your priorities." adalah salah satu permata pemikiran Covey yang sangat dalam , dan bisa menjadi pegangan hidup dalam mengelola waktu dan makna. Makna Mendalam dari Kalimat Ini “Kuncinya bukanlah memprioritaskan apa yang ada di jadwalmu, tapi menjadwalkan apa yang menjadi prioritas hidupmu.” Apa maksudnya? Sebagian besar orang: Menyusun jadwal berdasarkan tuntutan eksternal : deadline, rapat, permintaan orang lain. Lalu dari jadwal itu, mereka mencoba mencari-cari waktu untuk hal yang mereka anggap penting. Padahal Covey membaliknya: ➡️ Mulailah dari hal yang penting dulu. ➡️ Jadwalkan itu dengan sadar. ➡️ Baru isi waktu yang tersisa dengan urusan lain.  Praktik Sederhana yang Berdampak Besar: Tentukan 3 Prioritas Nilai Hidup Anda Contoh: Keluarga, Kontribusi Ilmu, Ibadah. Blokir waktu khusus untuk itu lebih dulu dalam jadwal mingguan. Sebelum isi Google Calendar atau to-do list, tu...