Langsung ke konten utama

Ya Allah Ya Rabb. Aku Ingin Jadi Pengusaha Sukses

Awalnya aku dulu punya cita-cita ingin menjadi seorang dokter. Tapi yah pas kuliah tidak lulus di Kedokteran, tapi aku lulus di Fakultas Pertanian Jurusan Teknologi pertanian Unhas. akhirnya cita-cita menjadi dokter tinggal menjadi mimpi. Waktu itu aku berfikir " Apa cita-citaku sekarang?" "apa Visiku?" "mau jadi apa aku ini ?"

waktu itu, aku jalani saja kuliahku semester awal, kulalui dengan lancar, enjoy, senang karena banyak teman baru dari pada aku nganggur begitu pikirku.

waktu terus berjalan, semester tiga pun datang. pertanyaan besar dalam benakku belum terjawab "Mau Jadi apa aku nanti ini ?"

kuliah perdana pengantar Teknologi Pertanian kuikuti. disana kemudian dijelaskan bagaimana profil teknologi pertanian kedepan. Mulailah tebuka pikiranku bahwa sebenarnya Allah Subhanahu Wata'alah telah memilihkan jurusan yang terbaik bagiku. Kenapa tidak kini aku punya cita-cita besar yaitu ingin menjadi pengusaha. Dosenku berhasil membuka fikiran kami memahamkan kami tentang jurusan kami ini. Tetang prospek kedepan Teknologi Pertanian yang seakin cerah insya Allah.

Sehingga kini untuk urusan dunia aku sudah punya Visi yaitu menjadi Pengusaha Sukses Insya Allah. Tentu takkan terlupakan misi lainku yakni Berdakwah illah dengan mengharap Ridho dari Allah.
Ya Allah Ya Rabb, aku ingin menjadi pengusaha sukses didunia ini dan masukkanlah hambamu ini dalam Syurga-MU di Akhirat kelak yang penuh dengan kenikmatan. aamiin.

Komentar

Anonim mengatakan…
sama ane juga mau jadi pengusaha..
amin semoga kita sama2 jadi pengusaha yg sukses, membawa manfaat bagi agama, orangtua, keluarga dan orang lain..
amin..

Postingan populer dari blog ini

Menanamkan Mindset “Asah Gergaji” Sejak Dini: Bekal Hidup yang Bertumbuh

oleh Muhammad Asfar “Gagal itu wajar. Tapi tidak bertumbuh adalah masalah besar.” Untuk Anak-Anak: Belajar Itu Asah Diri, Bukan Beban Banyak anak merasa sekolah itu melelahkan. Kenapa? Karena mereka hanya diajak "mencapai nilai", bukan menumbuhkan diri . Dengan mindset sharpen the saw , anak-anak belajar: -        Bahwa membaca buku = menguatkan pikiran -        Bermain sehat & tidur cukup = merawat fisik -        Minta maaf dan berbagi = mengasah emosi -        Shalat & dzikir = mengisi batin dengan cahaya “Nak, kamu nggak harus jadi yang terbaik. Tapi kamu harus jadi versi terbaik dari dirimu hari ini.” Untuk Mahasiswa: Jangan Kejar Gelar, Kejarlah Kapasitas Mahasiswa hari ini mudah terjebak pada sibuk tugas tanpa makna, cemas dengan IPK dan membandingkan pencapaian di media sosial. Mindset sharpen the saw mengajarkan bukan hanya kerja ker...

Habit 7: Sharpen the Saw dalam Konteks Spiritual dan Sosial

Oleh Muhammad Asfar "Jika aku punya waktu enam jam untuk menebang pohon, aku akan menggunakan empat jam pertama untuk mengasah gergaji."  Abraham Lincoln Apa itu “Mengasah Gergaji”? “Gergaji” adalah alat kehidupan: tubuh kita, akal kita, hati kita, dan ruh kita. Habit 7 adalah ajakan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, merawat alat utama kita, dan menyadari bahwa kelelahan lahir-batin butuh pemulihan terencana. 1. Spiritual Renewal – Asah Ruh dan Makna Hidup Kita bukan sekadar mesin produktif. Tanpa ruh yang segar, aktivitas menjadi hampa. Mengasah secara spiritual berarti  kembali ke tujuan hidup  “Untuk apa saya hidup hari ini?”.  Menjaga koneksi dengan Allah : shalat khusyuk, dzikir, tafakur.  Merefleksi peran dan amal : “Apakah aku sedang menuju ridha Allah atau sekadar mengejar target dunia?” “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (QS. Al-Kahfi: 28) Insight: Lalai mengigat Allah bisa...

Habit 5: Berusaha Mengerti Dulu, Baru Dimengerti

oleh Muhammad Asfar Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply.  Stephen R. Covey Apa Makna Habit 5 ini? Habit ini mengajarkan bahwa komunikasi yang paling kuat tidak dimulai dari bicara, tetapi dari mendengar dengan empati . Banyak orang mendengar untuk membalas Tapi sedikit yang mendengar untuk memahami. Habit 5 adalah kunci untuk: Hubungan yang sehat Kepemimpinan yang berpengaruh Komunikasi yang menyembuhkan Pola Lama: Ingin Didengar Terlebih Dahulu Kita sering ingin langsung dimengerti: Ingin pasangan paham perasaan kita Ingin anak patuh pada nasihat kita Ingin bawahan mengikuti arahan kita Padahal... kita belum benar-benar hadir untuk mereka. Kita belum memahami latar belakang, emosi, atau cara pandang mereka. Apa Itu Mendengar dengan Empati? Bukan sekadar diam. Bukan hanya menyimak. Tapi: Hadir utuh Tidak menghakimi Tidak memaksakan solusi Mendengar isi kata dan isi hati Covey menyebutnya sebagai: Empathic Listenin...