Langsung ke konten utama

Jalan Kesuksesan


"Mana mungkin saya akan sukses, karena terlalu banyak hambatan dan kesulitn yang saya hadapi", itulah perkataan yang mungkin sering terlontar dari diri kita. (terus terang aja deh ). jika itu benar, anda tidak usah kecewa, anda hanya perlu belajar Adversity Quotient (AQ)
AQ adalah sala satu kecerdasan penting untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan. yaitu kecerdasan mengatasi kesulitan. kecerdasan ini mampu mengubah hambatan, masalah dan kesukitan menjadi sebuah peluang.
Nabi Yusuf as. adalah Guru besar (professornya) dalam AQ ini, yang tidak hanya mengajarkan AQ dengan teori, akan tetap sekaligus dengan pengalaman hidupnya sendiri sejak kanak-kanak sampai dewasa. Hidupnya penuh ujian, cobaan, tantangan dan kesulitan. mulai dari problematika keluarga (ia dikucilkan dan di buang oleh saudara-saudaranya), godaan wanita cantik dan terhormat sampai pada cobaan kekuasaan. Akan tetapi, beliau mampu keluar dari semua itu hingga menjadi seorang raja, dan diakhirat sebagai hamba yang diridhai Allah. Disinilah kita dituntut untuk mempelajari, menelaah kisah perjalanan Nabi Yusuf as. Mempelajari konsep dan aplikasi dari AQ dari kisahnya, karena tidak ada seorang pun yang tidak perna menghadapai hambatan dan masalah dalam hidupnya.

selamat belajar AQ....

selesai..

maaf nih, tiba2 read morenya ngak mau berfungsi.....(:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanamkan Mindset “Asah Gergaji” Sejak Dini: Bekal Hidup yang Bertumbuh

oleh Muhammad Asfar “Gagal itu wajar. Tapi tidak bertumbuh adalah masalah besar.” Untuk Anak-Anak: Belajar Itu Asah Diri, Bukan Beban Banyak anak merasa sekolah itu melelahkan. Kenapa? Karena mereka hanya diajak "mencapai nilai", bukan menumbuhkan diri . Dengan mindset sharpen the saw , anak-anak belajar: -        Bahwa membaca buku = menguatkan pikiran -        Bermain sehat & tidur cukup = merawat fisik -        Minta maaf dan berbagi = mengasah emosi -        Shalat & dzikir = mengisi batin dengan cahaya “Nak, kamu nggak harus jadi yang terbaik. Tapi kamu harus jadi versi terbaik dari dirimu hari ini.” Untuk Mahasiswa: Jangan Kejar Gelar, Kejarlah Kapasitas Mahasiswa hari ini mudah terjebak pada sibuk tugas tanpa makna, cemas dengan IPK dan membandingkan pencapaian di media sosial. Mindset sharpen the saw mengajarkan bukan hanya kerja ker...

Habit 7: Sharpen the Saw dalam Konteks Spiritual dan Sosial

Oleh Muhammad Asfar "Jika aku punya waktu enam jam untuk menebang pohon, aku akan menggunakan empat jam pertama untuk mengasah gergaji."  Abraham Lincoln Apa itu “Mengasah Gergaji”? “Gergaji” adalah alat kehidupan: tubuh kita, akal kita, hati kita, dan ruh kita. Habit 7 adalah ajakan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, merawat alat utama kita, dan menyadari bahwa kelelahan lahir-batin butuh pemulihan terencana. 1. Spiritual Renewal – Asah Ruh dan Makna Hidup Kita bukan sekadar mesin produktif. Tanpa ruh yang segar, aktivitas menjadi hampa. Mengasah secara spiritual berarti  kembali ke tujuan hidup  “Untuk apa saya hidup hari ini?”.  Menjaga koneksi dengan Allah : shalat khusyuk, dzikir, tafakur.  Merefleksi peran dan amal : “Apakah aku sedang menuju ridha Allah atau sekadar mengejar target dunia?” “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (QS. Al-Kahfi: 28) Insight: Lalai mengigat Allah bisa...

Habit 5: Berusaha Mengerti Dulu, Baru Dimengerti

oleh Muhammad Asfar Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply.  Stephen R. Covey Apa Makna Habit 5 ini? Habit ini mengajarkan bahwa komunikasi yang paling kuat tidak dimulai dari bicara, tetapi dari mendengar dengan empati . Banyak orang mendengar untuk membalas Tapi sedikit yang mendengar untuk memahami. Habit 5 adalah kunci untuk: Hubungan yang sehat Kepemimpinan yang berpengaruh Komunikasi yang menyembuhkan Pola Lama: Ingin Didengar Terlebih Dahulu Kita sering ingin langsung dimengerti: Ingin pasangan paham perasaan kita Ingin anak patuh pada nasihat kita Ingin bawahan mengikuti arahan kita Padahal... kita belum benar-benar hadir untuk mereka. Kita belum memahami latar belakang, emosi, atau cara pandang mereka. Apa Itu Mendengar dengan Empati? Bukan sekadar diam. Bukan hanya menyimak. Tapi: Hadir utuh Tidak menghakimi Tidak memaksakan solusi Mendengar isi kata dan isi hati Covey menyebutnya sebagai: Empathic Listenin...