Langsung ke konten utama

Target Sebagai sandaran Kesuksesan



Di antara persoalan pokok yang menjadi sandaran kesuksesan dalam kehidupan manusia adalah penentuan target dan cara pencapaiaannya. Namun, apakah target itu ? dan bagaimana cara mencapainya ?
Target adalah perkara yang ingin dicapai oleh seseorang, bisa umum atau khusus, besar atau kecil, bermanfaat atau bermudharat. Kondisi target itu tergantung pada kondisi orang, kemampuannya, bakatnya dan kecenderungannya. Bila seorang murid di sekolah menengah bercita-cita menjadi seorang dokter, maka dia telah menentukan suatu target dalam hidupnya. Bila seorang pegawai berkata "Saya ingin membangun rumah" maka ia telah menentukan suatu target. Bila seorang berkata "Saya ingin rutin sholat sunat tahhajut tiap malam" maka ia juga telah menetukan suatu target. Proses penentuan target adalah Kunci kesuksesan dalam hidupnya.

Itu karena ia meletakkan tujuan dan kewajiban tertentu di hadapan orang, maka hal itu akan memaksanya berfikir untuk mewujudkan dan merealisasikannya. Oleh karena itu, orang harus belajar dan melatih diri untuk menentukan dan memilih suatu target.
sebagai seorang muslim, ada terget pokok dalam kehidupan manusia diatas bumi ini, yaitu beribadah kepada ALLAH untuk meraih keridhoaanNYA berupa syurgaNYA. Target ini adalah terget umum. Untuk menerapkannya dan menterjemahkannya ke alam nyata, haruslah dipilih dan dibagi menjadi target-target yang lebih terbatas, terfokus dan terkhusus. contohnya : terget mendirikan sholat tepat pada waktunya. walaupun target ini lebih terfokus dan lebih terbatas daripada terget umum yaitu beribadah, tetapi ia masih umum juga. Ia masih bisa dipilah dan dibagi menjadi target-target yang khusus dan tertentu hingga sampai pada target-target prektis yang terdiri dari langkah-langkah tertentu atau perbuatan tertentu, seperti pergi kemesjid ketika mendengarkan adzan, dan beramal jariah sekian rupiah untuk setiap sholat yang tidak ditunaikan tepat pada waktunya sebagai sangsi. Dua terget tersebut terbatas, jelas dan dapat diterapkan. Keduanya yang semisal dengannya termasuk langkah-langkah kerja yang terfokus untuk menerjemahkan target menunaikan sholat tepat pada waktunya.

selamat menentukan target dan berusahalah mencapai terget tersebut.
sukses selalu.
sekian.






Komentar

Anonim mengatakan…
Pencerahan yang bagus...

Postingan populer dari blog ini

Habit 7: Sharpen the Saw dalam Konteks Spiritual dan Sosial

Oleh Muhammad Asfar "Jika aku punya waktu enam jam untuk menebang pohon, aku akan menggunakan empat jam pertama untuk mengasah gergaji."  Abraham Lincoln Apa itu “Mengasah Gergaji”? “Gergaji” adalah alat kehidupan: tubuh kita, akal kita, hati kita, dan ruh kita. Habit 7 adalah ajakan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, merawat alat utama kita, dan menyadari bahwa kelelahan lahir-batin butuh pemulihan terencana. 1. Spiritual Renewal – Asah Ruh dan Makna Hidup Kita bukan sekadar mesin produktif. Tanpa ruh yang segar, aktivitas menjadi hampa. Mengasah secara spiritual berarti  kembali ke tujuan hidup  “Untuk apa saya hidup hari ini?”.  Menjaga koneksi dengan Allah : shalat khusyuk, dzikir, tafakur.  Merefleksi peran dan amal : “Apakah aku sedang menuju ridha Allah atau sekadar mengejar target dunia?” “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (QS. Al-Kahfi: 28) Insight: Lalai mengigat Allah bisa...

Habit 4: Think Win-Win – Berpikir Menang-Menang, Bukan Menang Sendiri

oleh Muhammad Asfar “Win-Win is not about being nice. It’s not a technique. It’s a total paradigm of human interaction.” — Stephen R. Covey Apa Itu Think Win-Win ? Habit keempat mengajarkan bahwa dalam setiap interaksi manusia, selalu ada jalan untuk menang bersama. Win-Win bukan kompromi, bukan pula manipulasi. Ini adalah cara berpikir dan bersikap yang meyakini bahwa keberhasilan orang lain tidak mengancam keberhasilan kita. Think Win-Win = Abundance Mindset + Karakter Mulia + Keberanian + Empati   Paradigma Lama: Menang-Kalah atau Kalah-Menang Banyak orang tumbuh dengan pola pikir: Menang-Kalah : “Kalau saya menang, orang lain harus kalah.” (Kompetisi keras, politik kantor, bisnis saling injak) Kalah-Menang : “Yang penting kamu bahagia, saya nggak apa-apa.” (Mengorbankan harga diri atau prinsip untuk ‘damai palsu’) Kalah-Kalah : “Kalau saya tidak dapat, kamu juga tidak boleh.” (Dendam, sabotase, destruktif) Mengapa Kita Harus Berpikir Win-Win? 1. Karena duni...

Menikah/Walimah

Hampir setiap ketemu dengan teman-teman lama ada satu pertanyaan yang tak pernah terlupakan mereka tanyakan. seakan-akan mereka telah sepakat ketika bertemu dengan ana mereka bertanya ; - antum sudah walimah ? ana jawab "belum". - Kapan? antum ini sudah pantas untuk segera walimah !!. ana jawab "Doakan saja akh, semoga Allah Mudahkan urusannya dan menujukkan akhwat yang terbaik". - segerakanmi akhi!!! ana jawab "aamiiin, aamiin, aamiin ya rabbal 'alamin". mungkin seperti itulah inti pertanyan mereka. ana pun kalo ketemu dengan teman2 lama. Untuk membuka bicaraan biasanya juga tanya2 seperti itu, walaupun ana sudah tau teman ini belum menikah. sampai2 ana pernah ketemu teman SMA, ia juga menyampaikan hal yang sama seperti yang saya ceritakan diatas. kurang lebih dia katakan: kenapa yah kalo ketemu teman topik walimah terus dibicarakan, antum juga bicara soal walimah!!. saya katakan mungkin sudah waktunya kita pikirkan untuk segera menikah akhi. he..h...